Awas Insomnia! Ini Dampak Nyata Makan Cokelat di Malam Hari bagi Kualitas Tidur Anda

Awas Insomnia! Ini Dampak Nyata Makan Cokelat di Malam Hari bagi Kualitas Tidur Anda

Memicu pengenduran katup pembatas lambung saat posisi berbaring, para ahli kesehatan memperingatkan bahaya kebiasaan ngemil cokelat sebelum tidur karena berisiko tinggi menaikkan asam lambung (GERD).-foto:ist-

SUMEKS RADIO- Bagi sebagian besar orang, cokelat adalah makanan penenang yang paling ampuh untuk meredakan stres setelah seharian beraktivitas.

Rasanya yang lezat dan teksturnya yang lembut sering kali memicu keinginan untuk mengonsumsinya sebagai camilan penutup di malam hari.

Namun, di balik sensasi rileks sesaat yang ditawarkannya, mengonsumsi cokelat sesaat sebelum tidur ternyata memicu serangkaian respons biologis yang dapat merugikan kesehatan tubuh Anda.

Dampak yang paling cepat dirasakan adalah gangguan pada siklus tidur.

BACA JUGA:Jangan Diabaikan! Makan dan Minum Sambil Duduk Ternyata Punya Banyak Manfaat untuk Kesehatan

BACA JUGA:Tak Ingin Berotot? Justru Anda Tetap Wajib Angkat Beban, Ini Alasannya

Cokelat, terutama jenis dark chocolate (cokelat hitam), secara alami mengandung kafein dan teobromin.

Kedua senyawa ini bertindak sebagai stimulan bagi sistem saraf pusat.

Meskipun kadar kafein dalam cokelat tidak sebanyak dalam secangkir kopi, jumlah tersebut sudah cukup untuk memblokir adenosin, yaitu senyawa kimia di otak yang memicu rasa kantuk.

Akibatnya, tubuh Anda akan tetap terjaga, detak jantung sedikit meningkat, dan Anda akan mengalami kesulitan untuk memasuki fase tidur nyenyak atau deep sleep.

BACA JUGA:Jangan Salah Pilih! Ini Bedanya Air Mineral dan Air Putih Biasa

BACA JUGA:Kabar Duka! Komedian Temon Meninggal Dunia, Dunia Hiburan Indonesia Berduka

Selain masalah insomnia, kebiasaan makan cokelat di malam hari juga menjadi musuh utama bagi kesehatan sistem pencernaan.

Cokelat kaya akan lemak dan kakao yang dapat merelaksasikan otot sfingter esofagus bagian bawah, yaitu katup yang memisahkan lambung dan kerongkongan.

Ketika katup ini mengendur dalam posisi tubuh berbaring, asam lambung akan dengan mudah naik kembali ke kerongkongan.

Kondisi ini memicu gejala acid reflux atau GERD, yang ditandai dengan sensasi terbakar di dada (heartburn) dan tenggorokan yang tidak nyaman, sehingga sering membuat Anda terbangun di tengah malam.

Dari sisi metabolisme dan pengelolaan berat badan, asupan cokelat di malam hari membawa dampak buruk yang signifikan.

Cokelat olahan umumnya mengandung kadar gula dan kalori yang sangat tinggi. Pada malam hari, laju metabolisme tubuh melambat karena organ-organ bersiap untuk beristirahat.

Gula yang masuk dalam jumlah besar tidak akan diubah menjadi energi, melainkan langsung disimpan oleh tubuh menjadi jaringan lemak.

Lonjakan gula darah yang tiba-tiba ini juga akan mengacaukan kerja hormon insulin, yang dalam jangka panjang dapat meningkatkan risiko resistensi insulin dan diabetes tipe 2.

Oleh karena itu, jika Anda memang sangat menggemari cokelat, para ahli kesehatan menyarankan untuk mengubah waktu konsumsinya.

Waktu terbaik untuk menikmati cokelat adalah pada pagi atau siang hari, di mana tubuh sedang aktif bergerak dan membutuhkan pasokan energi.

Namun, jika keinginan mengonsumsi cokelat di malam hari tidak tertahankan, batasi porsinya tidak lebih dari satu kotak kecil dan berikan jeda minimal dua hingga tiga jam sebelum Anda benar-benar merebahkan diri di tempat tidur.

Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News

Sumber: