Bikin Penasaran! Alasan Medis Kenapa Autoimun Lebih Sering Mengincar Perempuan

Bikin Penasaran! Alasan Medis Kenapa Autoimun Lebih Sering Mengincar Perempuan

Riset medis menunjukkan perempuan lebih rentan terserang penyakit autoimun dibanding pria, pakar UGM beberkan peran hormon dan genetik di baliknya.-Foto: ist -

SUMEKSRADIO: Penyakit autoimun merupakan kondisi ketika sistem kekebalan tubuh yang seharusnya melindungi diri dari serangan bakteri atau virus, justru keliru dan menyerang sel-sel sehat tubuhnya sendiri.

Fenomena medis ini menunjukkan ketimpangan gender yang sangat nyata.

Secara global, hampir 80 persen penderita autoimun seperti lupus, rheumatoid arthritis, hingga psoriasis adalah perempuan.

Lantas, mengapa kaum hawa jauh lebih rentan mengalami gangguan ini dibanding laki-laki?

BACA JUGA:Dosis Kebugaran Harian: Mengapa 30 Menit Bergerak Lebih Ampuh dari Suplemen Mahal

BACA JUGA:Dosis Kebugaran Harian: Mengapa 30 Menit Bergerak Lebih Ampuh dari Suplemen Mahal

Pakar kesehatan dan ilmuwan dari Universitas Gadjah Mada (UGM) menjelaskan bahwa fenomena ini bukanlah kebetulan belaka, melainkan hasil dari interaksi kompleks antara faktor hormonal, struktur genetik, serta paparan lingkungan.

Pedang Bermata Dua Bernama Hormon Estrogen

Secara biologis, tubuh perempuan dirancang memiliki pertahanan imun yang lebih kuat dan reaktif dibandingkan pria.

Kekuatan imunitas ini sangat dipengaruhi oleh keberadaan hormon estrogen.

BACA JUGA:Mimpi Digital: Saat AI Memelajari Cara Merasakan Empati dan Rindu

BACA JUGA:Duel Terakhir Ronaldo dan Messi di Piala Dunia 2026, Akhir Era Sepak Bola Modern

Estrogen berperan penting dalam meningkatkan produksi antibodi dan merangsang aktivitas sel-sel kekebalan tubuh.

Di satu sisi, sistem imun yang sangat aktif ini memberikan keunggulan bawaan bagi wanita dalam melawan infeksi virus maupun bakteri.

Namun, di sisi lain, sifat reaktif ini bertindak seperti pedang bermata dua.

Ketika pertahanan tubuh menjadi terlalu agresif atau hiperaktif, kekeliruan dalam mengenali sel tubuh sendiri menjadi lebih mudah terjadi, yang akhirnya memicu reaksi autoimun.

Sebaliknya, hormon testosteron pada pria cenderung bersifat imunosupresif (menekan respon imun), sehingga menurunkan risiko terbentuknya autoimun.

Pengaruh Kromosom X dan Genetik

Selain hormon, rahasia di balik kerentanan ini terletak pada kode genetik. Perempuan memiliki dua kromosom X (XX), sedangkan pria memiliki satu kromosom X dan satu kromosom Y (XY).

Banyak gen penting yang bertugas mengatur serta mengendalikan fungsi sistem imun berada di dalam kromosom X.

Meski salah satu kromosom X pada tubuh wanita secara alami dinonaktifkan dalam proses biologis, terkadang ada gen-gen pembawa sifat imun yang lolos dari proses penonaktifan tersebut.

Akibatnya, perempuan mendapatkan "dosis" gen pengendali sistem kekebalan yang lebih tinggi.

Kelebihan sinyal genetik ini bisa memicu terjadinya reaksi inflamasi atau peradangan kronis yang melandasi timbulnya penyakit autoimun.

Pemicu Lingkungan dan Pentingnya Deteksi Dini

Meskipun faktor genetik dan hormonal memegang peranan utama, serangan autoimun umumnya tidak muncul begitu saja tanpa adanya pemicu (trigger).

Pakar UGM menekankan bahwa tingkat stres tinggi, kualitas tidur yang buruk, konsumsi makanan terproses secara berlebihan, serta paparan bahan kimia atau infeksi tertentu dapat menjadi pemantik aktifnya penyakit ini.

Gejala awal autoimun sering kali terselubung dan tidak spesifik, seperti kelelahan yang ekstrem tanpa alasan jelas, nyeri sendi berulang, ruam kulit, hingga demam ringan yang hilang-tumbuh.

Karena sifat gejalanya yang fluktuatif, banyak wanita mengabaikan tanda-tanda awal ini hingga kerusakan jaringan tubuh sudah terlanjur meluas.

Menjaga gaya hidup seimbang, mengelola stres dengan baik, serta segera melakukan konsultasi medis jika merasakan keluhan berulang adalah langkah kunci bagi perempuan dalam mewaspadai bahaya autoimun sejak dini.

Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News

Sumber: