Banyak yang Salah, Begini Cara Tepat Mengatasi Mimisan

Banyak yang Salah, Begini Cara Tepat Mengatasi Mimisan

Mimisan bisa terjadi kapan saja, baik pada anak-anak maupun orang dewasa. Saat mengalaminya, jangan panik atau langsung mendongakkan kepala. Penanganan yang tepat, seperti duduk tegak, sedikit menundukkan kepala, dan menjepit bagian lunak hidung selama 10-Foto: IST -

SUMEKS RADIO – Mimisan atau keluarnya darah dari hidung merupakan kondisi yang cukup sering dialami oleh anak-anak maupun orang dewasa.

Meski umumnya tidak berbahaya dan dapat berhenti dengan sendirinya, mimisan tetap perlu ditangani dengan cara yang tepat agar perdarahan tidak berlangsung lebih lama dan tidak memicu komplikasi.

Mimisan biasanya terjadi akibat pecahnya pembuluh darah kecil di bagian depan rongga hidung.

Kondisi ini dapat dipicu oleh berbagai faktor, seperti udara yang terlalu kering, kebiasaan mengorek hidung, benturan pada hidung, alergi, infeksi saluran pernapasan, atau iritasi akibat terlalu sering meniup hidung.

BACA JUGA:Dosis Kebugaran Harian: Mengapa 30 Menit Bergerak Lebih Ampuh dari Suplemen Mahal

BACA JUGA:Kejutan VNL 2026: Dominasi Jepang dan Drama Lima Set Yang Mengguncang Dunia!

Ketika mimisan terjadi, langkah pertama yang perlu dilakukan adalah tetap tenang.

Rasa panik justru dapat membuat detak jantung meningkat sehingga perdarahan berpotensi berlangsung lebih lama.

Duduklah dalam posisi tegak dan condongkan tubuh sedikit ke depan.

Posisi ini membantu mengurangi tekanan pada pembuluh darah di hidung sekaligus mencegah darah mengalir ke tenggorokan.

BACA JUGA:Duel Terakhir Ronaldo dan Messi di Piala Dunia 2026, Akhir Era Sepak Bola Modern

BACA JUGA:Perawatan Murah Bukan Berarti Sembarangan: Risiko yang Mengintai

Selanjutnya, gunakan ibu jari dan telunjuk untuk menjepit bagian lunak hidung tepat di bawah tulang hidung.

Jepit secara terus-menerus selama sekitar 10 hingga 15 menit tanpa melepaskannya untuk memeriksa apakah perdarahan sudah berhenti.

Bernapaslah melalui mulut selama proses tersebut.

Salah satu kesalahan yang masih sering dilakukan adalah mendongakkan kepala ke belakang saat mimisan.

Cara ini tidak dianjurkan karena darah dapat mengalir ke tenggorokan dan tertelan.

Selain menimbulkan rasa mual atau muntah, darah yang masuk ke saluran napas juga dapat menyebabkan batuk atau tersedak.

Apabila tersedia, kompres dingin dapat ditempelkan pada pangkal hidung atau pipi.

Suhu dingin membantu menyempitkan pembuluh darah sehingga perdarahan lebih cepat berhenti.

Namun, kompres bukan pengganti tindakan menjepit hidung yang tetap menjadi langkah utama dalam pertolongan pertama.

Setelah mimisan berhenti, hindari meniup hidung, mengorek hidung, atau melakukan aktivitas fisik berat selama beberapa jam.

Pembuluh darah yang baru menutup masih rentan terbuka kembali apabila mendapat tekanan atau gesekan.

Meski sebagian besar mimisan dapat ditangani di rumah, ada beberapa kondisi yang memerlukan penanganan medis.

Segera periksakan diri ke fasilitas kesehatan apabila mimisan berlangsung lebih dari 20 menit meski sudah dilakukan penekanan, darah keluar dalam jumlah banyak, terjadi setelah cedera berat, atau disertai gejala seperti pusing hebat, sesak napas, hingga kehilangan kesadaran.

Penderita tekanan darah tinggi, gangguan pembekuan darah, atau mereka yang mengonsumsi obat pengencer darah juga disarankan lebih waspada jika mengalami mimisan berulang.

Pemeriksaan dokter diperlukan untuk mengetahui penyebab yang mendasari sekaligus menentukan penanganan yang sesuai.

Untuk mencegah mimisan, masyarakat dapat menjaga kelembapan udara di dalam ruangan, memperbanyak minum air putih, menggunakan pelembap hidung bila diperlukan sesuai anjuran tenaga kesehatan, serta menghindari kebiasaan mengorek hidung.

Memotong kuku secara rutin, terutama pada anak-anak, juga dapat membantu mengurangi risiko luka pada rongga hidung.

Dengan mengetahui langkah pertolongan pertama yang benar, masyarakat dapat menangani mimisan secara lebih tenang dan efektif.

 

Penanganan yang tepat tidak hanya membantu menghentikan perdarahan lebih cepat, tetapi juga mengurangi risiko komplikasi serta memastikan penderita segera mendapatkan pertolongan medis apabila diperlukan.

Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News

Sumber: