Mengurai Penyebab Rambut Rontok: Antara Ketidakcocokan Sampo dan Dampak Beban Psikologis

Mengurai Penyebab Rambut Rontok: Antara Ketidakcocokan Sampo dan Dampak Beban Psikologis

Pahami Telogen Effluvium: Saat Pikiran Stres Merontokkan Ratusan Helai Rambut-foto:ist-

SUMEKS RADIO - Setiap kali menyisir atau membilas rambut saat keramas, gumpalan helai rambut yang tersisa sering kali menimbulkan rasa cemas.

Reaksi spontan kebanyakan orang adalah langsung menyalahkan produk pembersih yang digunakan.

Anggapan bahwa salah pilih produk sampo merupakan pemicu utama kerontokan telah mengakar kuat di masyarakat.

Namun, penelitian medis modern menunjukkan bahwa penyebab rambut rontok tidak sesederhana itu.

BACA JUGA:Jangan Anggap Sepele! Merokok Bisa Memicu Penyakit Mematikan

BACA JUGA:Banyak yang Salah, Begini Cara Tepat Mengatasi Mimisan

Ada interaksi kompleks antara bahan kimia luar dan kondisi kesehatan mental yang terjadi di dalam tubuh.

Ketidakcocokan terhadap produk sampo memang dapat memicu masalah pada kulit kepala.

Kandungan bahan kimia sintetis tertentu, seperti sulfat yang terlalu pekat, paraben, atau wewangian buatan, bisa mengikis lapisan minyak alami kulit kepala.

Akibatnya, timbul iritasi, rasa gatal, ketombe, hingga peradangan pada folikel rambut.

BACA JUGA:Lepas dari Tekanan 9-to-5: Menyingkap Rahasia Gen Z Lebih Bahagia Jadi Content Creator

BACA JUGA:Bulu Tangkis Indonesia Kembali Berjaya, Gelar Juara Internasional Tambah Optimisme

Ketika folikel rambut mengalami peradangan, cengkeraman akar menjadi melemah sehingga rambut lebih mudah dicabut atau rontok saat disentuh.

Kendati demikian, kerontokan akibat sampo umumnya bersifat lokal dan dapat mereda begitu penggunaan produk tersebut dihentikan.

Di sisi lain, faktor internal seperti stres dan tekanan pikiran memegang peranan yang sangat masif terhadap kerontokan rambut sistemik.

Saat seseorang mengalami stres tingkat tinggi, tubuh akan memproduksi hormon kortisol secara berlebihan.

Lonjakan hormon kortisol ini merusak siklus alami pertumbuhan rambut dan memicu kondisi yang dikenal dalam dunia medis sebagai telogen effluvium.

Dalam kondisi ini, fase pertumbuhan (anagen) terhenti secara mendadak, dan sejumlah besar folikel rambut dipaksa masuk ke fase istirahat (telogen) secara bersamaan.

Akibatnya, dalam kurun waktu dua hingga tiga bulan setelah peristiwa penuh stres terjadi, rambut akan rontok secara masif dalam jumlah ratusan helai per hari.

Membedakan kedua pemicu ini sangat krusial agar penanganan yang diberikan tepat sasaran.

Jika kerontokan disertai sensasi terbakar, kemerahan, atau ketombe berlebih sesaat setelah berganti produk, besar kemungkinan formulasi sampo yang menjadi penyebabnya.

Namun, jika kondisi kulit kepala terlihat bersih dan sehat tetapi rambut terus menipis secara merata di seluruh bagian kepala, maka beban pikiran dan kelelahan mental adalah tersangka utamanya.

Oleh karena itu, penanganan rambut rontok membutuhkan pendekatan holistic.

Langkah awal adalah beralih ke sampo yang berbahan lembut, bebas sulfat, serta sesuai dengan tipe kulit kepala.

Bersamaan dengan itu, pengelolaan stres melalui olahraga teratur, tidur yang cukup, meditasi, dan jeda istirahat dari rutinitas harian wajib diterapkan.

Menggabungkan perawatan luar yang tepat dengan ketenangan jiwa adalah kunci utama menjaga kekuatan mahkota kepala Anda.

Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News

Sumber: