Beli Mobil Listrik vs Mobil Bensin: Mana yang Bikin Kantong Jebol?

Beli Mobil Listrik vs Mobil Bensin: Mana yang Bikin Kantong Jebol?

Beda tipis di harga beli, tapi beda jauh di pengeluaran harian! Ketahui hitung-hitungan lengkap biaya charge vs isi bensin dan alasan kenapa mobil listrik kian memikat di pasar otomotif tanah air.-foto:ist-

SUMEKS RADIO -  Lanskap industri otomotif tanah air sedang mengalami pergeseran fundamental.

Narasi lama yang menyebutkan bahwa mobil listrik (electric vehicle/EV) hanya menjadi mainan mewah bagi kalangan kelas atas perlahan runtuh.

Saat ini, persaingan harga antara mobil listrik dan mobil bermesin pembakaran internal (internal combustion engine/ICE) berbahan bakar bensin semakin ketat di pasar Indonesia.

Mengapa Harga Jual EV Semakin Kompetitif?

BACA JUGA:Jangan Salahkan Makanan! Ini Tanda Tubuh Kurang Tidur yang Bikin BB Cepat Naik.

BACA JUGA:Bukan Mitos! Ini Penjelasan Ilmiah Kenapa Durian Bikin Kepala Pusing

Faktor utama yang mengikis jurang harga ini adalah ekspansi masif fasilitas perakitan lokal secara Completely Knocked Down (CKD) oleh para pabrikan otomotif, bersanding erat dengan dukungan skema insentif pemerintah.   
 
Beban Pajak Pertambahan Nilai Ditanggung Pemerintah (PPN DTP) serta pembebasan PPnBM membuat banderol mobil listrik segmen entry-level kini tembus hingga ke kisaran Rp150 juta hingga Rp200 jutaan OTR.
 
Angka tersebut beririsan langsung dengan segmen mobil bensin kelas Low Cost Green Car (LCGC) maupun city car konvensional.

Namun, jika melihat perbandingan harga off the shelf atau harga awal di dealer, beberapa model mobil listrik kelas menengah memang masih tampak lebih mahal sekitar Rp50 juta hingga Rp100 juta dibanding mobil bensin di kelas setara.
 
 
 
Akan tetapi, menilai efisiensi finansial kendaraan hanya dari harga beli awal merupakan langkah yang kurang bijak.

Total Biaya Kepemilikan (Total Cost of Ownership)

Aspek krusial yang perlu dihitung calon pembeli adalah akumulasi pengeluaran harian dan bulanan melalui analisis Total Cost of Ownership, di mana mobil listrik memegang kendali efisiensi secara signifikan.
 
Dalam hal pengisian daya, mobil bensin dengan konsumsi rata-rata 1:12 membutuhkan biaya bahan bakar sekitar Rp1.000 hingga Rp2.400 per kilometer, sedangkan mobil listrik hanya menyedot biaya listrik rumah tangga atau SPKLU sekitar Rp188 hingga Rp250 per kilometer.
 
Untuk penggunaan harian sejauh 40 km, pemilik mobil listrik hanya mengeluarkan biaya sekitar Rp8.000 hingga Rp10.000, berbanding jauh dengan pengguna mobil bensin yang membelanjakan Rp40.000 hingga Rp90.000.
 
Dari sisi pemeliharaan, mobil konvensional mengusung ratusan komponen bergerak pada sistem mesin, transmisi, dan pembuangan yang mewajibkan penggantian oli, filter, busi, serta sabuk pemutar secara berkala, sementara mobil listrik jauh lebih sederhana tanpa oli mesin maupun sistem transmisi kompleks sehingga estimasi biaya servis tahunannya bisa lebih murah 50% hingga 60%.
 
Selain itu, dukungan regulasi daerah berupa pembebasan atau keringanan Pajak Kendaraan Bermotor (PKB) membuat pajak tahunan EV berukuran sedang sering kali berada di bawah kisaran Rp1 juta, sedangkan mobil bensin di kelas sepadan bisa dikenakan pajak tahunan Rp3 juta hingga Rp6 juta.

Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News

Sumber: