Cokelat Valentine dan Jerawat: Antara Mitos Populer dan Fakta Medis

Cokelat Valentine dan Jerawat: Antara Mitos Populer dan Fakta Medis

Setiap menjelang Hari Valentine, cokelat hampir selalu menjadi simbol kasih sayang yang tak tergantikan.-Foto: IST-

Lemak yang ada sebagian besar berasal dari kakao alami dan cenderung netral bagi kulit.

Bahkan, kandungan antioksidan seperti flavonoid berpotensi membantu melawan stres oksidatif yang berkontribusi pada penuaan dan kerusakan sel kulit.

Sebaliknya, cokelat susu yang umum dijadikan hadiah Valentine sering diperkaya gula, susu, serta bahan tambahan lain. Kombinasi ini dapat meningkatkan risiko munculnya jerawat, terutama jika dikonsumsi berlebihan.

Namun perlu digarisbawahi bahwa respons tubuh terhadap makanan bersifat individual.

Ada orang yang tetap memiliki kulit bersih meski rutin mengonsumsi cokelat manis, sementara yang lain lebih mudah mengalami reaksi kulit.

BACA JUGA:Rapel Gaji Pensiun ASN 2025 Aman Tanpa Potongan, Taspen Buka Suara soal Jadwal dan Nominal

BACA JUGA:Toyota Innova Crysta 2026 Resmi Meluncur: MPV Keluarga Makin Mewah, Teknologi Naik Kelas!

Menikmati Cokelat dengan Lebih Bijak

Menjaga keseimbangan menjadi kunci utama. Memilih cokelat hitam dengan kandungan kakao tinggi dapat menjadi alternatif yang lebih ramah bagi kulit.

Mengatur porsi konsumsi, memperbanyak minum air, serta mengimbanginya dengan pola makan sehat juga membantu meminimalkan risiko.

Bagi individu yang sudah mengetahui bahwa kulitnya sensitif terhadap makanan manis, mengganti camilan dengan buah atau pilihan rendah gula bisa menjadi solusi bijak tanpa mengurangi makna berbagi di hari istimewa.

Pada akhirnya, cokelat bukanlah satu-satunya pihak yang layak disalahkan. Yang menentukan dampaknya adalah komposisi bahan, jumlah konsumsi, dan kondisi tubuh masing-masing. Maka, menikmati cokelat Valentine tetap dapat dilakukan tanpa rasa bersalah — selama disertai kesadaran akan pilihan yang lebih sehat.

Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News

Sumber: