Bukan Cuma Kurang Niat, Ini Alasan Medis Kenapa Lepas dari Rokok Terasa Menyiksa!
Menurut penjelasan medis, sulitnya berhenti merokok bukan sekadar masalah niat, melainkan akibat cengkeraman adiktif nikotin yang memengaruhi kerja dopamin di otak.-Foto: ist -
SUMEKSRADIO: Banyak perokok aktif yang berulang kali menanamkan niat untuk menyudahi kebiasaan mengisap tembakau, namun berakhir pada kegagalan yang sama.
Masyarakat sering kali menganggap kegagalan tersebut belaka disebabkan oleh minimnya tekad atau lemahnya pendirian.
Padahal, dari sudut pandang medis, keputusan untuk berhenti mengonsumsi tembakau bukan sekadar perkara komitmen emosional, melainkan pertarungan melawan reaksi kimiawi dan neurobiologis yang sangat kompleks di dalam otak.
Para ahli kesehatan menjelaskan bahwa senyawa utama yang bertanggung jawab atas ketergantungan ini adalah nikotin.
BACA JUGA:Gebrakan Pasar MPV: BYD Bawa M6 EV dan M6 DM untuk Keluarga Indonesia di GIIAS 2026
BACA JUGA:Gebrakan Pasar MPV: BYD Bawa M6 EV dan M6 DM untuk Keluarga Indonesia di GIIAS 2026
Saat seseorang menghirup asap rokok, nikotin diserap oleh paru-paru dan masuk ke dalam aliran darah.
Zat adiktif ini hanya membutuhkan waktu sekitar 10 detik untuk sampai ke otak.
Ketika mendarat di organ pusat saraf tersebut, nikotin langsung mengikat reseptor khusus dan memicu pelepasan hormon dopamin dalam jumlah besar.
Dopamin merupakan senyawa kimia yang menciptakan sensasi rileks, rasa senang sementara, dan fokus yang tajam.
BACA JUGA:Gebrakan Pasar MPV: BYD Bawa M6 EV dan M6 DM untuk Keluarga Indonesia di GIIAS 2026
BACA JUGA:Bioskop Makin Panas! Ini 5 Rekomendasi Film Hits 2026 yang Wajib Kamu Tonton Sekarang
Masalah utama timbul ketika efek menyenangkan dari dopamin tersebut memudar dengan cepat.
Kadar nikotin di dalam tubuh akan merosot drastis hanya dalam hitungan jam.
Begitu zat ini menyusut, otak akan mengirimkan sinyal bahaya dan menuntut pasokan baru demi mempertahankan rasa nyaman yang sebelumnya dirasakan.
Lingkaran setan inilah yang mengondisikan tubuh untuk terus menyulut batang demi batang.
Ketika seseorang mencoba berhenti secara mendadak, tubuh akan merespons lewat nicotine withdrawal syndrome atau gejala putus zat.
Gejala-gejala fisik dan emosional yang muncul bisa sangat menyiksa, seperti rasa cemas berlebih, pusing, gelisah, emosi yang tidak stabil, kesulitan berkonsentrasi, hingga insomnia parah.
Sensasi tidak nyaman inilah yang kerap memaksa seorang perokok untuk kembali menyerah dan mengambil batang rokoknya demi meredakan siksaan fisik tersebut.
Selain ketergantungan fisik, ada pula tantangan berupa ketergantungan psikologis serta pola kebiasaan yang sudah mengakar kuat.
Mengisap rokok sering kali berubah menjadi respons otomatis saat menghadapi situasi tertentu, seperti setelah makan malam, saat mengobrol bersama teman, atau sewaktu mengalami stres pekerjaan.
Memutuskan rantai kebiasaan refleks yang sudah berlangsung bertahun-tahun tentu memerlukan adaptasi mental yang ekstra keras.
Dokter menyarankan agar proses penghentian merokok dilakukan dengan pendekatan medis yang terstruktur, bukan sekadar mengandalkan kekuatan mental semata.
Langkah awal dapat dilakukan melalui konsultasi dengan dokter untuk menyusun rencana yang terukur.
Penggunaan terapi pengganti nikotin (Nicotine Replacement Therapy), seperti permen karet medis atau plester nikotin, terbukti ampuh membantu menurunkan kadar konsumsi secara bertahap tanpa memicu sakau hebat.
Didukung dengan terapi perilaku dan perubahan pola hidup yang sehat, kesempatan untuk memutus kecanduan permanen akan terbuka jauh lebih lebar.
Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News
Sumber: