Bukan Cuma Bikin Malas, Terlalu Sering Nonton TV Ternyata Menggerogoti Massa Otak

Bukan Cuma Bikin Malas, Terlalu Sering Nonton TV Ternyata Menggerogoti Massa Otak

Penelitian medis terbaru mengungkapkan kebiasaan terlalu sering menonton televisi berpotensi memicu percepatan penyusutan volume otak dan menurunkan fungsi kognitif.-Foto: ist -

SUMEKSRADIO: Di tengah maraknya perbincangan mengenai dampak negatif smartphone, keberadaan televisi kerap kali luput dari perhatian.

Padahal, kebiasaan duduk berjam-jam di depan layar kaca sambil menyaksikan tayangan favorit telah menjadi bagian tak terpisahkan dari gaya hidup modern.

Namun, penelitian medis terbaru membawa kabar ganjil yang patut diwaspadai: kebiasaan terlalu sering menonton televisi ternyata berkorelasi langsung dengan penurunan volume atau penyusutan massa otak.

Fenomena penyusutan otak ini umumnya berkaitan erat dengan proses penuaan alami.

BACA JUGA:Gebrakan Pasar MPV: BYD Bawa M6 EV dan M6 DM untuk Keluarga Indonesia di GIIAS 2026

BACA JUGA:Bioskop Makin Panas! Ini 5 Rekomendasi Film Hits 2026 yang Wajib Kamu Tonton Sekarang

Namun, studi kesehatan menunjukkan bahwa individu yang menghabiskan waktu lebih dari tiga hingga empat jam sehari untuk menonton TV mengalami percepatan penurunan volume materi abu-abu (gray matter) di dalam otak.

Materi abu-abu ini merupakan bagian vital yang bertanggung jawab atas pemrosesan informasi, pengendalian emosi, daya ingat, hingga koordinasi gerakan tubuh.

Lantas, mengapa menonton TV bisa memicu kondisi ini? Para ahli saraf menjelaskan bahwa menonton TV merupakan aktivitas mental yang cenderung pasif.

Berbeda saat seseorang membaca buku, bermain musik, atau berdiskusi, otak yang terpapar tayangan TV tidak mendapatkan stimulasi kognitif yang cukup.

BACA JUGA:Gebrakan Pasar MPV: BYD Bawa M6 EV dan M6 DM untuk Keluarga Indonesia di GIIAS 2026

BACA JUGA:Bioskop Makin Panas! Ini 5 Rekomendasi Film Hits 2026 yang Wajib Kamu Tonton Sekarang

Ketika otak jarang dilatih untuk berpikir kritis atau memecahkan masalah, jaringan saraf secara bertahap memotong koneksi yang tidak terpakai, yang pada akhirnya memicu penurunan massa jaringan otak.

Selain kurangnya stimulasi mental, faktor gaya hidup sedenter atau kurang bergerak (sedentary lifestyle) saat menonton TV turut memperburuk kondisi ini.

Duduk dalam waktu lama dapat menurunkan sirkulasi darah ke seluruh tubuh, termasuk aliran darah dan oksigen menuju otak.

Pasokan oksigen dan nutrisi yang berkurang secara konsisten berpotensi merusak sel-sel otak dan menurunkan fungsi kognitif secara signifikan di masa mendatang, bahkan meningkatkan risiko demensia.

Kendati demikian, para ahli menegaskan bahwa televisi tidak serta-merta menjadi "musuh" utama kesehatan Anda.

Kunci utamanya terletak pada batasan durasi dan keseimbangan aktivitas harian.

Untuk mencegah dampak buruk ini, masyarakat disarankan untuk membatasi waktu di depan layar (screen time) maksimal satu hingga dua jam sehari.

Mengimbangi hobi menonton dengan aktivitas fisik rutin seperti berjalan kaki, bersepeda, atau berolahraga ringan sangat efektif untuk menjaga aliran darah ke otak tetap lancar.

Selain itu, menyelingi waktu senggang dengan kegiatan yang melatih ketajaman berpikir seperti mengisi teka-teki silang, membaca, atau mempelajari keterampilan baru dapat membantu mempertahankan struktur dan fungsi otak agar tetap optimal hingga usia senja.

Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News

Sumber: