Jangan Tertipu Label Less Sugar: Benarkah Kopi Segelas Ini Simpan Bahaya Diabetes?
Mengurangi takaran gula saat memesan kopi memang langkah awal yang baik, namun apakah cukup untuk mencegah risiko diabetes melitus tipe 2? Temukan perspektif medis mengenai efektivitas kopi less sugar serta batas aman konsumsi gula harian bagi para penikm-Foto: ist-
SUMEKSRADIO: Budaya minum kopi telah bergeser dari sekadar pendorong energi menjadi bagian tak terpisahkan dari gaya hidup modern.
Di tengah menjamurnya kedai kopi kekinian, kesadaran masyarakat akan risiko penyakit metabolik khususnya diabetes melitus tipe 2 turut meningkat.
Fenomena ini memicu lahirnya opsi popular di meja kasir: opsi less sugar atau pengurangan kadar gula.
Namun, pertanyaan besar yang timbul di kalangan medis dan pecinta kopi adalah seberapa efektif kebiasaan memesan kopi less sugar ini dalam menekan risiko diabetes? Untuk memahami efektivitasnya, penting untuk membongkar racikan di balik segelas kopi kekinian.
BACA JUGA:Bensin Makin Mahal? Saatnya Beralih ke Sepeda Listrik Tanpa Bikin Kantong Bolong!
BACA JUGA: BMKG Umumkan: Agustus, Bulan Terpanas Sebagian Besar Wilayah Indonesia!
Kopi asli, seperti kopi hitam polos tanpa bahan tambahan, sebenarnya kaya akan senyawa aktif seperti asam klorogenat dan kafein.
Berbagai studi kesehatan menunjukkan bahwa antioksidan dalam biji kopi murni dapat membantu meningkatkan sensitivitas insulin dan metabolisme glukosa.
Masalah utamanya bukan terletak pada biji kopinya, melainkan bahan tambahan seperti sirup glukosa, krimer kental manis, susu full cream, hingga topping seperti boba atau whipped cream.
Ketika seseorang beralih memilih opsi less sugar, hal tersebut tentu menjadi langkah awal yang sangat baik.
BACA JUGA: BMKG Umumkan: Agustus, Bulan Terpanas Sebagian Besar Wilayah Indonesia!
BACA JUGA: BMKG Umumkan: Agustus, Bulan Terpanas Sebagian Besar Wilayah Indonesia!
Mengurangi takaran sirup gula artinya memangkas asupan kalori kosong yang masuk ke dalam tubuh.
Lonjakan kadar gula darah secara mendadak setelah mengonsumsi minuman manis dapat ditekan, sehingga beban kerja pankreas dalam memproduksi insulin menjadi lebih ringan.
Dalam jangka panjang, pengurangan kalori berlebih ini dapat mencegah penumpukan lemak tubuh dan penurunan fungsi insulin yang menjadi pemicu utama timbulnya diabetes.
Namun, mengandalkan opsi less sugar saja kerap kali memberikan rasa aman yang semu.
Frasa sugar di banyak kedai kopi umumnya hanya mengindikasikan pengurangan takaran sirup gula sebesar 25 hingga 50 persen dari porsi standar.
Artinya, minuman tersebut masih mengandung gula cair dalam jumlah yang lumayan tinggi, belum lagi memperhitungkan kandungan gula alami dan lemak dari susu segar yang digunakan.
Jika segelas kopi less sugar masih menyimpan sekitar 15 hingga 20 gram gula, jumlah ini sudah menyedot sebagian besar batas konsumsi gula harian yang direkomendasikan oleh Kementerian Kesehatan RI, yaitu maksimal 50 gram per hari.
Efektivitas pengurangan gula pada kopi juga sangat tergantung pada frekuensi konsumsi harian.
Mengonsumsi kopi less sugar sebanyak dua hingga tiga kali sehari tetap berpotensi menyebabkan penumpukan gula berlebih.
Oleh karena itu, para ahli kesehatan menyarankan agar konsumen tidak hanya bergantung pada opsi less sugar, melainkan secara bertahap melatih indra pengecap untuk terbiasa dengan cita rasa kopi alami.
Memilih kopi hitam tanpa gula, atau mengganti susu dengan opsi rendah lemak tanpa tambahan sirup manis, merupakan proteksi yang jauh lebih kuat dalam mencegah risiko penyakit diabetes secara jangka panjang.
Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News
Sumber: