USD Tertahan, Rupiah Tertekan! Data Ritel AS Mengejutkan, BI Buka Peluang Pangkas Suku Bunga
USD Tertahan, Rupiah Tertekan! Data Ritel AS Mengejutkan.gbr.sumeksradio--
SUMEKSRADIO.DISWAY.ID – Dolar Amerika Serikat (USD) diperdagangkan relatif stabil pada sesi New York semalam setelah data penjualan ritel AS dirilis tanpa perubahan dari periode sebelumnya. Angka yang stagnan ini justru memicu spekulasi baru: peluang pelonggaran kebijakan moneter The Federal Reserve (The Fed) kembali terbuka, terutama menjelang rilis data tenaga kerja bulanan AS yang dinanti pasar malam ini.
Pasar global kini berada dalam fase menunggu dan mengamati (wait and see). Pelaku pasar mempertimbangkan apakah pelemahan konsumsi akan menjadi sinyal perlambatan ekonomi yang cukup kuat untuk mendorong The Fed memangkas suku bunga lebih cepat dari perkiraan.
BACA JUGA:Rupiah Menguat Tipis ke Rp16.792 per Dolar, Sinyal Tahan Banting di Tengah Ketidakpastian Global
USD Stabil, Pasar Bertaruh pada Kebijakan The Fed
Presiden The Fed Cleveland, Beth Hammack, menegaskan bahwa suku bunga kemungkinan tetap berada di level saat ini untuk waktu yang lebih lama sambil menunggu data ekonomi berikutnya.
Pernyataan ini cenderung bernada hati-hati (hawkish ringan), mengingat inflasi masih menjadi perhatian utama.
Sementara itu, Presiden The Fed Dallas, Lorie Logan, menyampaikan harapan bahwa inflasi akan terus menurun.
Namun ia menekankan, diperlukan pelemahan signifikan di pasar tenaga kerja agar penurunan suku bunga benar-benar mendapat dukungan penuh.
Artinya, data tenaga kerja AS malam ini akan menjadi “penentu arah” jangka pendek bagi pergerakan dolar dan aset berisiko global.
BACA JUGA:Dolar AS Tersungkur! Yuan & Yen Melesat, Emas Jadi Primadona di Tengah Gejolak Global
Rupiah Melemah, BI Beri Sinyal Dovish
Di dalam negeri, rupiah ditutup relatif melemah terhadap dolar AS, seiring sinyal dovish dari Bank Indonesia (BI).
Wakil Gubernur Senior BI, Destry Damayanti, menyebut masih ada ruang untuk pemangkasan suku bunga, dengan pertimbangan inflasi domestik yang rendah dan kebutuhan mendorong pertumbuhan ekonomi.
Langkah ini dinilai sebagai strategi menjaga momentum ekonomi nasional, namun di sisi lain bisa menekan nilai tukar rupiah dalam jangka pendek jika selisih suku bunga dengan AS menyempit.
BACA JUGA:USD Menguat Tajam, Rupiah Tembus Rp16.800 per Dolar AS
Berdasarkan data kurs terbaru:
KURS v1 (Rupiah terhadap Mata Uang Asing)
Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News
Sumber: