Mengurai Teater Antrean BPJS: Mengapa Rumah Sakit Masih Belum Bebas Macet?
Antrean panjang pasien BPJS Kesehatan di berbagai rumah sakit masih jadi persoalan klasik yang belum teratasi. Mulai dari keterbatasan dokter spesialis hingga sistem rujukan, ketahui penyebab utama di balik waktu tunggu berjam-jam ini.-foto:ist-
SUMEKS RADIO -Suara ketukan kaki yang gelisah dan helaan napas berat menjadi latar suara yang lazim terdengar di koridor-koridor rumah sakit setiap pagi.
Pemandangan pasien yang menumpuk sejak fajar, memegang berkas rujukan yang mulai kusut, bukanlah hal baru dalam ekosistem pelayanan BPJS Kesehatan.
Meski program jaminan kesehatan nasional ini berhasil memberikan akses medis bagi puluhan juta rakyat Indonesia, satu persoalan mendasar tetap menjadi batu sandungan yang belum juga teratasi: lamanya waktu tunggu untuk mendapatkan penanganan dokter.
Fenomena antrean mengular ini kerap dituding sebagai dampak dari ketidaksiapan sistem digital.
BACA JUGA: BMKG Umumkan: Agustus, Bulan Terpanas Sebagian Besar Wilayah Indonesia!
BACA JUGA:Udara Kabur 'Sapa' Palembang Pagi Ini, BMKG Prediksi Cuaca Sumsel Mayoritas Berawan
Namun, jika dibedah lebih dalam, akar permasalahannya jauh lebih kompleks dari sekadar aplikasi yang mengalami lag atau eror.
Masalah utama terletak pada ketimpangan ekstrim antara jumlah peserta aktif BPJS dengan kapasitas fasilitas kesehatan yang tersedia, terutama di tingkat lanjutan atau Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD).
Sistem rujukan berjenjang yang diterapkan BPJS sejatinya bertujuan untuk meratakan beban pelayanan.
Pasien diwajibkan berobat ke Fasilitas Kesehatan Tingkat Pertama (FKTP) seperti puskesmas atau klinik terlebih dahulu sebelum dirujuk ke rumah sakit.
BACA JUGA:Langit Palembang Berpotensi Kabur Hari Ini, Simak Prakiraan BMKG
BACA JUGA:Como 1907 Resmi Boyong Trevoh Chalobah dari Chelsea, Serie A Dapat Amunisi Baru
Sayangnya, banyak FKTP yang memiliki keterbatasan sarana penunjang diagnosis dan jumlah dokter spesialis.
Akibatnya, arus pasien yang dialirkan ke Rumah Sakit Fasilitas Kesehatan Rujukan Tingkat Lanjut (FKRTL) tetap membengkak deras.
Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News
Sumber: