Samsung Wallet Bakal Tampung Stablecoin: Dompet Digital Galaxy Menjelma Jadi

Samsung Wallet Bakal Tampung Stablecoin: Dompet Digital Galaxy Menjelma Jadi

Samsung Wallet resmi bakal tampung stablecoin! Fitur baru ini sulap HP Galaxy kamu jadi "bank mini" di saku yang bikin transaksi digital makin cepat, aman, dan tanpa repot. Cek info lengkapnya di artikel ini!-foto:ist-

SUMEKS RADIO - Samsung Electronics mengumumkan bahwa Samsung Wallet, aplikasi dompet digital bawaan pada ponsel Galaxy, akan diperluas untuk menampung stablecoin — mata uang kripto yang nilainya dipatok pada mata uang konvensional seperti dolar Amerika Serikat.

 

Pengumuman itu disampaikan Product Manager Samsung, Lee Dinham, dalam ajang Galaxy Unpacked 2026 pada 22 Juli 2026. Menurut Dinham, Samsung Wallet akan bergerak melampaui fungsi uang tunai dan tabungan, lalu merangkul bentuk-bentuk baru nilai digital, termasuk stablecoin.

Dalam paparan tersebut, Samsung menampilkan mockup antarmuka dompet yang memuat USDC, stablecoin terbitan Circle yang merupakan salah satu terbesar berdasarkan kapitalisasi pasar. Namun perlu dicatat: Samsung sampai kini belum mengonfirmasi secara resmi stablecoin mana yang akan didukung, jaringan blockchain apa yang dipakai, siapa mitra kustodinya, kapan fitur ini meluncur, maupun negara mana yang lebih dulu kebagian.

Stablecoin adalah token digital yang dirancang menjaga nilainya tetap stabil — umumnya setara satu dolar AS — dengan cara dijamin aset cadangan berupa uang tunai atau surat utang pemerintah jangka pendek dengan rasio satu banding satu.

Karakter inilah yang membedakannya dari Bitcoin atau Ethereum. Bitcoin berfluktuasi tajam sehingga sulit dipakai bertransaksi harian; harga secangkir kopi bisa berubah nilainya dalam hitungan jam. Stablecoin dirancang untuk masalah sebaliknya: menjadi alat pemindah nilai yang cepat dan murah lintas negara, tanpa gejolak harga.

Secara global, pasokan stablecoin berada di kisaran USD 310 miliar, tumbuh pesat setelah Amerika Serikat mengesahkan GENIUS Act yang mengatur penerbitan stablecoin secara formal.

Bagi industri kripto, hambatan terbesar selama ini bukan teknologi, melainkan jalur masuk ke pengguna awam. Di sinilah Samsung memegang keunggulan yang sulit ditandingi platform kripto mana pun.

Samsung menyebut lebih dari 800 juta ponsel akan memiliki fitur stablecoin secara bawaan, termasuk akun tabungan dan pembayaran berbasis mata uang fiat. Samsung Wallet sendiri sudah tersedia di 61 negara, dengan hampir 19 juta pengguna di Korea Selatan saja. Secara keseluruhan, terdapat lebih dari satu miliar ponsel Samsung aktif di seluruh dunia.

Artinya, jika rencana ini terealisasi, ratusan juta orang bisa mengakses stablecoin tanpa perlu mengunduh aplikasi bursa kripto atau membuka akun exchange terpisah.

Joseph Goh, Director dan Head of Asia Pacific pada firma penasihat investasi kripto Areta, menilai langkah ini menempatkan Samsung sebagai distributor stablecoin dominan. Kepada CoinDesk, ia menyebut distribusi adalah aset paling langka dalam industri ini — dan Samsung memilikinya dalam jumlah besar.

 

Pandangan senada datang dari Ben Nadareski, CEO dan salah satu pendiri Solstice. Ia menggambarkan situasi ini sebagai distribusi yang akhirnya menyusul likuiditas: selama bertahun-tahun kripto punya pasar dalam di negara seperti Korea Selatan, tetapi lemah pada jalur belanja sehari-hari.

 

Rencana ini merupakan kelanjutan dari jejak panjang Samsung di aset digital:

2019 : Samsung memperkenalkan dompet aset digital berbasis Knox, brankas terisolasi secara perangkat keras dengan akses sidik jari atau PIN.

2021 : Dukungan untuk dompet perangkat keras pihak ketiga seperti Ledger Nano S dan Nano X.

Oktober 2025 : Perluasan kemitraan dengan bursa kripto AS, Coinbase, yang memungkinkan pembelian kripto langsung dari Samsung Wallet bagi sekitar 75 juta pengguna Galaxy di Amerika Serikat.

Mei 2026 : Tiga afiliasi Samsung Samsung Securities, Samsung SDS, dan Samsung Card sepakat mengakuisisi 4 persen saham Dunamu, operator bursa kripto terbesar Korea Selatan, Upbit, senilai USD 408 juta.

Juli 2026 : Peluncuran Samsung Galaxy Card, kartu kredit pertama Samsung yang diterbitkan Barclays di jaringan Visa, menawarkan 5 persen cash back untuk pembelian produk Samsung dan 3 persen untuk transaksi via Samsung Wallet.

Peluncuran Samsung Galaxy Card, kartu kredit pertama Samsung yang diterbitkan Barclays di jaringan Visa, menawarkan 5 persen cash back untuk pembelian produk Samsung dan 3 persen untuk transaksi via Samsung Wallet.

 

Goh membaca dua langkah itu sebagai satu paket strategi: pengumuman dompet mengamankan sisi distribusi, sementara SDS dan Dunamu mengamankan infrastruktur di bawahnya.

Meski demikian, pengumuman ini masih berupa arah, bukan produk. Kata "dukungan" mencakup rentang implementasi yang sangat luas — mulai dari sekadar menampilkan saldo, sampai penyimpanan mandiri penuh — dan Samsung belum menegaskan satu pun di antaranya.

Samsung juga tidak memaparkan proyeksi jumlah pengguna, maupun berapa banyak pemilik Galaxy yang sudah memakai fitur kripto yang ada saat ini. Angka 800 juta merujuk pada target perangkat, bukan konfirmasi jumlah pengguna stablecoin.

 

Yat Siu, Executive Chairman Animoca Brands, memandang langkah ini sebagai penambahan fitur, bukan upaya membangun super app. Menurutnya, integrasi tersebut bisa memberi Samsung keunggulan atas Apple dan Google dalam melayani pengguna kripto, tetapi aplikasi dan pedagang tetap harus membuat stablecoin berguna untuk belanja sehari-hari. Animoca Brands sendiri merupakan perusahaan yang sebagian sahamnya dimiliki Samsung.

 

Di Korea Selatan, kerangka hukumnya pun belum final. Pemerintah setempat merilis draf Digital Asset Basic Act pada April 2026, namun belum ada tenggat pengesahan maupun implementasi.

Inilah bagian yang paling perlu dicermati pembaca dalam negeri.

 

Samsung Wallet resmi hadir di Indonesia pada 6 November 2025, awalnya untuk pengguna Galaxy Z Fold7, Galaxy Z Flip7, dan Galaxy S25 Series. Namun cakupannya masih terbatas pada penyimpanan kartu keanggotaan, boarding pass, dan kunci digital. Fitur transaksi pembayaran belum sepenuhnya tersedia dan masih berstatus menyusul.

Dari sisi regulasi, pengaturan dan pengawasan aset kripto telah beralih dari Bappebti ke Otoritas Jasa Keuangan (OJK), dengan masa transisi dinyatakan tuntas pada Januari 2026. Kerangka teknisnya dijalankan melalui POJK Nomor 27 Tahun 2024 tentang Perdagangan Aset Keuangan Digital termasuk Aset Kripto, yang kemudian diubah lewat POJK Nomor 23 Tahun 2025. Payung hukumnya diperkuat melalui revisi UU Nomor 4 Tahun 2023 tentang P2SK menjadi UU Nomor 4 Tahun 2026, yang memperluas kewenangan OJK atas seluruh aset keuangan digital.

Pada 2 Juli 2026, Kepala Eksekutif Pengawas Inovasi Teknologi Sektor Keuangan, Aset Keuangan Digital, dan Aset Kripto (IAKD) OJK, Adi Budiarso, mengumumkan penyusunan Roadmap IAKD periode 2026–2031. Regulasi stablecoin menjadi salah satu isu strategis yang dibahas, bersama tokenisasi aset, perpajakan aset digital, keamanan siber, transaksi OTC, dan Single Investor Identifier.

Namun satu hal tetap tegas: rupiah adalah satu-satunya alat pembayaran yang sah di Indonesia, sesuai Undang-Undang Mata Uang. Aset kripto, termasuk stablecoin, tidak boleh digunakan untuk membayar barang dan jasa di dalam negeri. Statusnya adalah aset yang diperdagangkan, bukan uang.

Konsekuensinya, meski fitur stablecoin Samsung Wallet nantinya masuk ke Indonesia, kemungkinan besar bentuknya terbatas pada penyimpanan dan pengiriman aset — bukan pembayaran di kasir. Skenario "tap-to-pay pakai USDC di minimarket" belum punya dasar hukum.

 

Di sisi lain, Bank Indonesia tengah mengembangkan Rupiah Digital melalui Proyek Garuda sebagai mata uang digital bank sentral, yang secara posisi justru menjadi alternatif resmi terhadap stablecoin swasta.

 

1.   Risiko penerbit. Stabilitas stablecoin bergantung penuh pada kualitas dan transparansi aset cadangan penerbitnya. Bila cadangan bermasalah, patokan nilai bisa lepas.

2.   Risiko kurs. Stablecoin berbasis dolar tetap membuat pemegangnya terekspos pergerakan nilai tukar rupiah terhadap dolar.

3.   Kesalahan transaksi bersifat final. Transfer blockchain ke alamat yang salah umumnya tidak dapat dibatalkan atau ditarik kembali.

4.   Kepastian pajak dan pelaporan. Transaksi aset kripto di Indonesia memiliki kewajiban perpajakan tersendiri yang perlu dipahami pengguna.

5.   Ketergantungan  ekosistem. Samsung Wallet dirancang untuk perangkat Galaxy. Berpindah merek berarti melakukan migrasi ulang.

Pada akhirnya, langkah Samsung menandai pergeseran penting: aset digital tidak lagi menunggu pengguna datang ke bursa kripto, melainkan dipasang lebih dulu di perangkat yang sudah ada di tangan mereka. Apakah pergeseran itu menjangkau Indonesia, dan dalam bentuk apa, akan sangat ditentukan oleh hasil pembahasan regulasi yang kini sedang berjalan di OJK dan Bank Indonesia.

Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News

Sumber: