Pernah Jaya Lalu Sirna: Mengapa Hampir 3 dari 4 Token Kripto Elite Mengalami 'Mati Suri'?
Berdasarkan riset terbaru, hampir 3 dari 4 token yang pernah menembus jajaran Top 100 aset kripto kini dinyatakan mati secara operasional akibat hilangnya likuiditas, pengembang yang hengkang, dan ketiadaan inovasi.-foto:ist-
SUMEKS RADIO -Pasar aset digital kerap dipersepsikan sebagai ladang emas bagi para investor yang mencari keuntungan kilat.
Namun, di balik narasi kesuksesan dan kenaikan harga yang fantastis, terdapat realitas kelam yang melanda industri ini.
Berdasarkan hasil studi komprehensif terhadap pergerakan aset digital dari waktu ke waktu, ditemukan bahwa hampir tiga dari empat token yang pernah berhasil menembus jajaran Top 100 berdasarkan kapitalisasi pasar kini telah mati secara operasional.
Kondisi "mati operasional" ini merujuk pada proyek-proyek aset kripto yang sudah tidak lagi memiliki aktivitas pengkodingan atau pengembangan software di repositori publik, ketiadaan volume perdagangan dalam jangka waktu lama, hingga pengembang yang meninggalkan komunitas begitu saja.
BACA JUGA: BMKG Umumkan: Agustus, Bulan Terpanas Sebagian Besar Wilayah Indonesia!
BACA JUGA: BMKG Umumkan: Agustus, Bulan Terpanas Sebagian Besar Wilayah Indonesia!
Dari ratusan token yang sempat menikmati masa kejayaan di peringkat teratas, mayoritas gagal mempertahankan relevansi, kegunaan, maupun fondasi finansial mereka ketika siklus pasar berganti.
Ada beberapa faktor utama yang menyebabkan maraknya kejatuhan token papan atas ini.
Pertama adalah faktor tren dan spekulasi sesaat.
Banyak token yang berhasil merangkak naik ke posisi 100 besar hanya karena didorong oleh narasi sementara, dukungan tokoh publik, atau pemasaran gila-gilaan selama fase bull run.
BACA JUGA:Liga Inggris 2026/2027 SegeraBergulir, Persaingan Gelar Juara Diprediksi Semakin Sengit
BACA JUGA:Gebrakan Pasar MPV: BYD Bawa M6 EV dan M6 DM untuk Keluarga Indonesia di GIIAS 2026
Ketika antusiasme publik mereda dan likuiditas pasar menyusut, proyek yang tidak memiliki nilai guna nyata (utility) akan segera ditinggalkan oleh para pemegang saham maupun pengembangnya.
Faktor kedua terletak pada tata kelola dan keberlanjutan tokenomik (tokenomics).
Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News
Sumber: