Provinsi NTB sendiri tercatat sebagai daerah dengan tingkat literasi terendah ketiga di Indonesia.
Bahkan, 1 dari 9 penduduk NTB masih mengalami buta huruf.
Di tingkat sekolah dasar, banyak siswa yang masih tertinggal dalam keterampilan membaca dasar.
Kondisi ini berdampak pada pemahaman mata pelajaran lain, memperparah ketertinggalan akademik, serta menurunkan kepercayaan diri siswa.
Metode Pengajaran Kontekstual
Untuk menjawab tantangan tersebut, BRI Peduli menghadirkan pendekatan inovatif.
Program ini menggunakan metode pengajaran berbasis sains yang disesuaikan dengan konteks lokal, sehingga lebih mudah dipahami siswa di daerah.
“Dengan metode berbasis sains dan pendekatan lokal, program ini tidak hanya fokus pada peningkatan kemampuan siswa, tapi juga memperkuat kapasitas guru agar intervensi pendidikan bisa berdampak jangka panjang,” jelas Hendy.
Selain pelatihan guru dan modul khusus literasi, program ini juga menghidupkan kembali sarana membaca di sekolah.
BACA JUGA:Bantu Warga Pelosok, BRILink Kian Menjamur: Bertransaksi Online Sembari Beli Pulsa
Perpustakaan SDN 1 Malaka diperbaiki dan diperkaya dengan koleksi buku ilmu pengetahuan, cerita inspiratif, hingga bacaan interaktif yang menarik minat siswa.
Membuat Literasi Lebih Menyenangkan
Sadar bahwa membaca sering dianggap membosankan oleh anak-anak, BRI Peduli merancang kegiatan yang lebih kreatif.