Mitos Kutukan Hadiah Sepatu Saat Valentine: Antara Kepercayaan Populer dan Realitas Psikologis

Rabu 11-02-2026,13:17 WIB
Reporter : Rian Sumeks
Editor : Rian Sumeks

SUMEKS RADIO - Menjelang Hari Valentine 2026, berbagai tradisi dan kepercayaan kembali ramai diperbincangkan, termasuk mitos yang menyebutkan bahwa memberikan sepatu sebagai hadiah dapat membawa pertanda buruk bagi hubungan asmara.

Kepercayaan ini cukup dikenal di Indonesia, beredar dari percakapan santai hingga media sosial, meski tidak memiliki landasan ilmiah yang kuat. Bagi sebagian pasangan, mitos tersebut bahkan menimbulkan keraguan dalam memilih hadiah, seolah sepatu dapat menjadi simbol perpisahan.

Dalam budaya populer, sepatu sering diasosiasikan dengan langkah atau perjalanan. Dari simbolisme inilah muncul tafsir bahwa menghadiahkan sepatu berarti “mempersilakan pasangan melangkah pergi”.

Ada pula yang mengaitkannya dengan pengaruh budaya Tiongkok, di mana pengucapan kata yang merujuk pada sepatu terdengar mirip dengan makna negatif atau kesialan.

BACA JUGA:Cokelat Valentine dan Jerawat: Antara Mitos Populer dan Fakta Medis

BACA JUGA:Terungkap! Ini Daftar Lengkap Gaji Pokok PNS 2026 dari Golongan I sampai IV, Benarkah Naik?

Narasi simbolik ini kemudian menyebar luas, membentuk keyakinan yang diwariskan secara sosial tanpa pernah benar-benar diuji secara ilmiah.

Fenomena tersebut pada dasarnya lebih mencerminkan konstruksi budaya daripada fakta objektif. Hingga kini tidak ada penelitian empiris yang menunjukkan adanya hubungan sebab-akibat antara pemberian sepatu dengan putusnya relasi romantis.

Dalam kajian psikologi, kondisi ini sering dijelaskan melalui efek sugesti negatif atau nocebo — situasi ketika keyakinan buruk justru memengaruhi perasaan dan perilaku seseorang.

Individu yang meyakini mitos mungkin menjadi cemas, sensitif, atau mudah curiga, sehingga konflik kecil terasa lebih besar dari kenyataan.

BACA JUGA:USD Tertahan, Rupiah Tertekan! Data Ritel AS Mengejutkan, BI Buka Peluang Pangkas Suku Bunga

BACA JUGA:Infinix Note 60 Series 2026: Aurora Power, Beyond Limits!

Dampak psikologis semacam ini dapat berkembang menjadi ramalan yang terpenuhi dengan sendirinya (self-fulfilling prophecy).

Ketika pasangan terlalu fokus pada pertanda buruk, komunikasi menjadi terganggu dan kepercayaan melemah.

Padahal, faktor yang lebih menentukan kelangsungan hubungan adalah kualitas interaksi, empati, serta kemampuan menyelesaikan masalah bersama.

Kategori :