Prospek Harga Bitcoin Februari 2026: Antara Optimisme ETF dan Risiko Konsolidasi
Pasar kripto memasuki awal 2026 dengan atmosfer yang penuh spekulasi dan harapan. Bitcoin (BTC), sebagai aset digital terbesar dunia-Foto: IST-
SUMEKS RADIO - Pasar kripto memasuki awal 2026 dengan atmosfer yang penuh spekulasi dan harapan. Bitcoin (BTC), sebagai aset digital terbesar dunia, kembali menjadi pusat perhatian setelah pergerakannya menunjukkan sinyal pemulihan usai fase volatil sepanjang awal Januari.
Sejumlah analis global menilai Februari 2026 berpotensi menjadi titik krusial bagi arah harga Bitcoin, dengan proyeksi yang bervariasi dari skenario agresif hingga kehati-hatian ekstrem.
Per 27 Januari 2026, harga Bitcoin berada di kisaran USD 88.368, mencerminkan fase konsolidasi setelah gagal menembus resistance psikologis USD 100.000.
Meski demikian, banyak pihak menilai posisi ini justru menjadi landasan sehat untuk lonjakan berikutnya, terutama jika sentimen makro dan arus dana institusional tetap berpihak.
BACA JUGA:SUV Bekas Ini Masih Laris di 2026, Toyota Rush TRD 2019 Ternyata Punya Alasan Kuat
Skenario Bullish: Target Enam Digit Kian Dekat
Dalam skenario optimistis, mayoritas analis menempatkan Bitcoin pada lintasan bullish menuju USD 130.000 hingga USD 150.000 pada Februari 2026.
Proyeksi ini didorong oleh beberapa katalis utama, terutama derasnya aliran dana ke produk ETF Bitcoin spot yang semakin diterima pasar global.
Lembaga riset seperti CoinCodex dan Bernstein menilai inflow ETF bukan hanya meningkatkan likuiditas, tetapi juga memperkuat legitimasi Bitcoin sebagai aset lindung nilai alternatif.
Ditambah lagi, arah kebijakan pemerintahan Amerika Serikat yang lebih ramah terhadap industri kripto dinilai mampu menciptakan iklim investasi yang kondusif.
BACA JUGA:Dolar AS Tertekan Jelang The Fed, SGD Sentuh Level Terkuat Sejak 2014
Faktor makro turut memperkuat optimisme tersebut. Potensi penurunan suku bunga The Fed membuka ruang bagi aset berisiko untuk kembali dilirik, sementara adopsi kripto di negara berkembang, termasuk Indonesia, diperkirakan terus tumbuh signifikan. Lonjakan jumlah investor ritel dan institusional domestik menjadi bahan bakar tambahan bagi permintaan Bitcoin dalam jangka menengah.
Jika skenario ini terwujud, maka dari level saat ini Bitcoin berpeluang mencatat kenaikan sekitar 30–55 persen, sebuah angka yang tetap realistis di dunia kripto yang dikenal agresif.
Skenario Bearish: Koreksi Masih Mengintai
Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News
Sumber: