Dolar AS Menggila! Data Ekonomi Solid, The Fed Tahan Suku Bunga, Rupiah Tertekan

Dolar AS Menggila! Data Ekonomi Solid, The Fed Tahan Suku Bunga, Rupiah Tertekan

Dolar AS Menggila! Data Ekonomi Solid, The Fed Tahan Suku Bunga, Rupiah Tertekan.gbr.sumeksradio--

SUMEKSRADIO.DISWAY.IDDolar AS menguat tajam setelah sederet data ekonomi Amerika Serikat dirilis lebih baik dari perkiraan pasar. Kombinasi data durable goods orders, housing permits, hingga industrial production mempertegas bahwa ekonomi Negeri Paman Sam masih solid di tengah tekanan global.

Penguatan dolar ini langsung berdampak pada pergerakan mata uang dunia, termasuk rupiah.

Pelaku pasar kini mulai mengubah ekspektasi mereka terhadap kebijakan suku bunga bank sentral AS.

Data Ekonomi AS Solid, Ekspektasi Pemangkasan Suku Bunga Berubah

Data pesanan barang tahan lama (durable goods orders) menunjukkan kenaikan signifikan, begitu pula izin pembangunan perumahan (housing permits) dan produksi industri.

Angka-angka ini memberi sinyal bahwa aktivitas ekonomi domestik AS tetap kuat.

BACA JUGA:USD Tertahan, Rupiah Tertekan! Data Ritel AS Mengejutkan, BI Buka Peluang Pangkas Suku Bunga

Akibatnya, pasar mulai meragukan kemungkinan The Fed memangkas suku bunga sebanyak tiga kali tahun ini.

Sejumlah analis memprediksi pemotongan mungkin hanya terjadi pada Juni dan September, sebelum suku bunga dipertahankan hingga 2027.

Beberapa pejabat dari Federal Reserve bahkan mengisyaratkan kekhawatiran baru terhadap inflasi.

Jika tekanan harga tetap tinggi di atas target 2 persen, bukan tidak mungkin suku bunga justru kembali dinaikkan.

Bank Indonesia Diprediksi Tahan Suku Bunga

Di dalam negeri, Bank Indonesia diperkirakan mempertahankan suku bunga acuan untuk kelima kalinya berturut-turut.

BACA JUGA:The Fed Sinyalkan Pemangkasan Suku Bunga, Rupiah Tetap Stabil di Tengah Tekanan Global

Langkah ini dinilai sebagai strategi menjaga stabilitas rupiah di tengah memudarnya kepercayaan investor terhadap iklim investasi nasional.

Dengan dolar AS menguat, ruang gerak BI menjadi semakin terbatas.

Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News

Sumber: