PALEMBANG, SUMEKSRADIO.DISWAY.ID – Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) dibuka menguat tipis pada awal perdagangan spot hari ini, Senin (9/2/2026). Rupiah menguat 0,11 persen ke level Rp16.792 per dolar AS, melanjutkan tren positif dari penutupan sebelumnya di Rp16.803/US$, setelah sempat berada di Rp16.860/US$.
Meski bergerak di zona hijau, penguatan rupiah kali ini masih tergolong terbatas.
Pasar menilai pergerakan tersebut lebih dipengaruhi oleh sentimen eksternal jangka pendek dan faktor penahan tekanan dari dalam negeri, bukan karena fundamental yang benar-benar solid.
BACA JUGA:Dolar AS Tersungkur! Yuan & Yen Melesat, Emas Jadi Primadona di Tengah Gejolak Global
Pelemahan Dolar AS Jadi Penopang Utama Rupiah
Dari sisi global, pelemahan dolar AS menjadi katalis utama penguatan rupiah pagi ini.
Indeks dolar AS tercatat turun ke kisaran 96,9, mencerminkan aksi penyesuaian posisi investor global setelah reli dolar dalam beberapa pekan terakhir.
Pelaku pasar kini mulai bersikap lebih hati-hati menjelang rilis sejumlah data penting Amerika Serikat, terutama data ketenagakerjaan dan inflasi.
Ketidakpastian terkait waktu serta skala pelonggaran suku bunga The Fed membuat investor memilih strategi wait and see, membuka ruang penguatan terbatas bagi mata uang Asia, termasuk rupiah.
BACA JUGA:USD Menguat Tajam, Rupiah Tembus Rp16.800 per Dolar AS
Selain itu, imbal hasil obligasi pemerintah AS tenor pendek yang turun ke sekitar 4,23 persen turut memperbaiki sentimen risiko global dan mendorong minat selektif terhadap aset emerging markets.
Arus Dana Masuk, Tapi Masih Selektif
Kondisi global yang cenderung risk-on ringan mendorong arus dana kembali masuk ke pasar negara berkembang.
Indonesia ikut merasakan dampaknya, meski skalanya masih relatif kecil dan bersifat jangka pendek.
BACA JUGA:Ancaman Shutdown AS Tekan Dolar, Ketidakpastian Fiskal Menguat
Bagi pelaku pasar di Sumatera Selatan, khususnya Palembang, penguatan rupiah ini memberi sedikit ruang napas bagi pelaku usaha impor, mulai dari distributor bahan baku hingga pedagang elektronik yang sensitif terhadap fluktuasi kurs dolar.
Namun, analis menilai penguatan ini belum cukup kuat untuk menjadi sinyal pembalikan tren jangka menengah.