SUMEKSRADIO.DISWAY.ID – PALEMBANG. Pergerakan pasar keuangan global kembali memanas. Dolar Amerika Serikat (USD) terus menunjukkan kekuatan signifikan terhadap berbagai mata uang dunia selama lima hari berturut-turut. Penguatan ini dipicu oleh meningkatnya tensi geopolitik di Timur Tengah, yang kembali memicu aksi “safe haven” dari para investor global.
Ancaman dari Gedung Putih terkait potensi peningkatan serangan terhadap Iran membuat ketidakpastian global semakin tinggi.
Dalam kondisi seperti ini, USD kembali menjadi pilihan utama investor sebagai aset aman, sehingga menekan mata uang negara berkembang, termasuk rupiah.
BACA JUGA:Dollar AS Makin Perkasa! Rupiah Tertekan, Konflik AS-Iran Picu Ketidakpastian Global
USD Perkasa, Rupiah Tertekan di Zona 17.000
Nilai tukar USD terhadap rupiah kini berada di kisaran Rp16.960 hingga Rp17.035.
Level ini menjadi salah satu yang cukup tinggi dalam beberapa waktu terakhir, sekaligus mencerminkan tekanan eksternal yang masih kuat.
Penguatan dolar ini tidak hanya berdampak pada rupiah, tetapi juga terhadap mata uang lain seperti yen Jepang (JPY), euro (EUR),
dan poundsterling (GBP). Meski JPY sempat menguat ke level 159 per USD akibat intervensi verbal dari pejabat Tokyo,
tekanan terhadap mata uang Asia secara umum masih terasa.
BACA JUGA:Dollar AS Bangkit Lagi! Rupiah Tertekan, Konflik Timur Tengah Jadi Pemicu Utama
Kondisi ini menunjukkan bahwa pasar global masih sangat sensitif terhadap isu geopolitik dan arah kebijakan moneter negara-negara besar.
Harga Minyak Tembus USD 100, Inflasi Global Mengintai
Di sisi lain, harga minyak dunia juga menjadi sorotan utama. Saat ini, harga crude oil tercatat stabil di atas USD 100 per barel, untuk pertama kalinya sejak tahun 2022.
Kenaikan harga energi ini berpotensi memicu inflasi global yang lebih tinggi.