Paparan layar dalam waktu lama dapat menyebabkan mata cepat lelah, sakit kepala, nyeri leher, hingga meningkatkan risiko obesitas akibat kurang bergerak.
Selain itu, kebiasaan terlalu sering menggunakan gadget juga dapat menghambat perkembangan kemampuan komunikasi anak karena waktu berbicara dan bersosialisasi menjadi semakin berkurang.
Lalu, kapan screen time harus mulai dibatasi? Orang tua sebaiknya mulai menerapkan aturan sejak usia dini.
Anak berusia di bawah dua tahun sebaiknya tidak diberikan akses layar kecuali untuk berkomunikasi melalui video bersama anggota keluarga.
Sementara anak usia dua hingga lima tahun dianjurkan menggunakan perangkat maksimal satu jam setiap hari dengan pendampingan orang tua.
Untuk anak usia sekolah, penggunaan gadget dapat disesuaikan dengan kebutuhan belajar, namun tetap harus memiliki batas agar tidak mengganggu aktivitas lain.
Membatasi screen time tidak berarti melarang anak menggunakan gadget sepenuhnya.
Justru yang paling penting adalah menciptakan keseimbangan antara aktivitas digital dan aktivitas nyata.
Orang tua dapat membuat jadwal penggunaan gadget setiap hari, misalnya hanya setelah tugas sekolah selesai atau pada jam tertentu.
Dengan adanya aturan yang konsisten, anak akan lebih mudah memahami kapan waktu bermain gadget dan kapan harus melakukan aktivitas lain.
Cara lain yang efektif adalah menyediakan kegiatan alternatif yang lebih menarik.
Mengajak anak bermain di luar rumah, membaca buku, menggambar, berolahraga, atau melakukan permainan edukatif bersama keluarga dapat mengurangi ketergantungan terhadap layar.
Semakin banyak aktivitas yang menyenangkan, semakin kecil kemungkinan anak merasa bosan tanpa gadget.
Selain itu, orang tua juga harus menjadi contoh yang baik.
Anak cenderung meniru kebiasaan orang tuanya.
Jika orang tua lebih sering menatap layar dibandingkan berinteraksi dengan keluarga, anak akan menganggap kebiasaan tersebut sebagai sesuatu yang normal.