1965 Namanya Bukan Ampera! Inilah Kisah di Balik Nama Jembatan Ampera yang Ikonik, Simbol Kota Palembang

1965 Namanya Bukan Ampera! Inilah Kisah di Balik Nama Jembatan Ampera yang Ikonik, Simbol Kota Palembang

Kisah di Balik Nama Jembatan Ampera yang Ikonik-Foto: google/net-

Usaha tersebut mendapatkan dukungan dari Pemprov Sumsel dan Kota Palembang serta Kodam IV/Sriwijaya.

Akhirnya, usaha ini membuahkan hasil, dan Soekarno memberikan persetujuan untuk pembangunan jembatan tersebut.

Namun, Soekarno menetapkan syarat untuk persetujuannya. Ia ingin adanya penempatan boulevard atau taman terbuka di kedua ujung jembatan tersebut. Dengan syarat tersebut, pembangunan Jembatan Musi pun dimulai.

Pada 14 Desember 1961, kontrak pembangunan Jembatan Ampera ditandatangani dengan biaya sekitar USD 4.500.000 (dengan kurs saat itu, USD 1 = Rp 200).

BACA JUGA:Inilah 5 Nama Desa di Musi Banyuasin, Unik dan Kaya!

Pembangunan jembatan tersebut difokuskan di wilayah hilir, yang merupakan pusat kota Palembang, terutama kawasan 16 Ilir.

Selama proses pembangunan, banyak bangunan peninggalan Belanda yang harus dibongkar, termasuk pusat perbelanjaan terbesar, Matahari (Dezon), Kantor listrik (OGEM), dan Bank ESCOMPTO.

Namun, menara air (waterleding), yang kini digunakan sebagai Kantor Wali Kota, tetap berdiri di bagian hulu, sebagai salah satu peninggalan bersejarah yang masih bertahan.

Pembangunan jembatan ini dimulai pada bulan April 1962, setelah mendapatkan persetujuan dari Presiden Soekarno.

Dana yang digunakan untuk pembangunan jembatan ini berasal dari dana pampasan perang yang diberikan oleh Jepang.

Tidak hanya dana, pembangunan Jembatan Ampera juga melibatkan tenaga ahli dari Jepang.

BACA JUGA:Ternyata ini Nama Kota Palembang Zaman Dahulu! di Masa Kejayaan Abad ke-7, Banyak yang Gak tau nih!

Pada awalnya, jembatan ini dikenal dengan nama Jembatan Bung Karno sebagai bentuk penghargaan kepada Presiden pertama Republik Indonesia yang gigih memperjuangkan keinginan warga Palembang untuk memiliki jembatan di atas Sungai Musi.

Jembatan ini diresmikan pada tahun 1965, dan pada saat itu, menjadi salah satu jembatan terpanjang di Asia Tenggara.

Namun, nama Jembatan Bung Karno tidak bertahan lama. Pada tahun 1966, setelah peristiwa Gerakan 30 September 1965 (G30SPKI), yang dikenal sebagai peristiwa yang mengguncang politik Indonesia, terjadi pergantian nama.

Nama Jembatan Bung Karno diganti menjadi Jembatan Ampera, yang merupakan singkatan dari "Amanat Penderita Rakyat."

Nama "Ampera" ini merupakan slogan yang disampaikan oleh para demonstran anti PKI dan Soekarno.

Pergantian nama ini mencerminkan kekecewaan warga Palembang terhadap dugaan keterlibatan Soekarno dalam peristiwa G30SPKI.

BACA JUGA:Hari Sumpah Pemuda!Ini Sejarah Awalnya yang Harus Kalian Ketahui Rapat Pertama di Gedung Katholieke Jongenling

Meskipun perubahan nama tersebut terjadi sebagai ekspresi kekecewaan masyarakat, wacana tersebut tidak pernah terealisasi.

Dalam hal ini, Jembatan Ampera tetap menjadi bagian integral dari sejarah dan identitas Palembang, mengingat sejarahnya yang panjang dan makna yang melekat padanya.

Selama pembangunan Jembatan Ampera, banyak bangunan bersejarah yang berasal dari masa penjajahan Belanda harus dibongkar.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Sumber: