SUMEKSRADIO.DISWAY.ID – Pergerakan pasar global kembali dinamis pada Selasa, 24 Februari 2026. Dolar Amerika Serikat (USD) tercatat menguat terhadap mayoritas mata uang utama setelah pelaku pasar mencermati rencana terbaru Presiden AS terkait pengenaan tarif global impor.
Sentimen tersebut membuat indeks dolar kembali terapresiasi, sementara mata uang emerging market, termasuk rupiah, bergerak fluktuatif.
USD Menguat Dipicu Isu Tarif Global
Penguatan USD terjadi setelah pasar menilai dampak kebijakan perdagangan yang kembali mengemuka di Amerika Serikat.
Kebijakan tarif global dinilai berpotensi memicu tekanan inflasi sekaligus memperkuat posisi dolar sebagai safe haven.
BACA JUGA:USD Melemah Usai Putusan Pengadilan, Pasar Soroti Tarif Trump & Data Inflasi Global
Di sisi lain, Perwakilan Dagang AS menyebutkan belum ada mitra dagang Washington yang menyatakan akan menarik diri dari kesepakatan yang telah disepakati sebelumnya, meskipun terdapat dinamika hukum terkait program tarif tersebut.
Sentimen global ini menjadi faktor utama penguatan dolar terhadap sejumlah mata uang Asia.
Defisit APBN Januari 2026 Capai Rp54,6 Triliun
Dari dalam negeri, Indonesia mencatat defisit anggaran sebesar Rp54,6 triliun atau sekitar USD 3,25 miliar pada Januari 2026, setara 0,21 persen dari total Produk Domestik Bruto (PDB).
Kenaikan penerimaan negara belum mampu menutupi lonjakan belanja pemerintah di awal tahun.
Meski masih dalam batas terkendali, data ini menjadi perhatian investor asing yang memantau stabilitas fiskal Indonesia.
BACA JUGA:USD Perkasa di Tengah Ancaman Perang! Emas Tembus Level Tinggi, Rupiah Dijaga BI
BOJ Berpotensi Naikkan Suku Bunga Maret
Dari Jepang, mantan anggota dewan Bank of Japan, Makoto Sakurai, menyampaikan kemungkinan kenaikan suku bunga lebih cepat, bahkan pada Maret mendatang, apabila yen kembali melemah menjelang pertemuan puncak AS–Jepang.